statistik

Blogger Mobile

Senin, 06 September 2010

SFC, Siapa Yang salah ???

Ini merupakan Artikel yang pernah saya Posting dibeberapa web.
SIAPA yang salah???? Manajemen, pemain, media atau suporternya!!! Menilik prestasi klub sepakbola kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan, klub yang dulu bernama Persijatim Solo ini kemudian dibeli Pemerintah provinsi Sumsel pada beberapa tahun yang yang lalu kemudian berganti nama menjadi Sriwijaya FC (SFC). Ini tampaknya bisa membanggakan masyarakat Sumsel, setidaknya klub ini mempunyai nama di dalam negeri dan sedikit mengharumkan nama Indonesia di tingkat Asia karena setidaknya berhasil menembus babak 16 besar AFC.

Tapi apakah dengan demikian bisa menjadi acuan akan terjadinya keharmonisan baik antara pemain dengan manajemen, manajemen dengan suporter,pemain dengan suporter bahkan mungkin manajemen, pemain, media dan suporternya.
Bagaimana tidak di musim yang lalu, pemain yang seharusnya rukun kepada suporternya malah terlibat aksi pemukulan dan lebih disayangkan lagi kejadian ini pertama kali terjadi di Indonesia bahkan di dunia.
Cukup disayangkan Sriwijaya FC dengan prestasinya dihiasi dengan embel-embel tim paling fairpPlay mencetak sejarah yang kurang baik. Klub yang berhasil menyandang double winner pada musim 2007-2008 kemudian berhasil mempertahankan Piala Indonesia dua musim selanjutnya ini tampaknya masih patut untuk dibanggakan oleh mereka yang tinggal di Sumsel bahkan oleh mereka yang merantau di kota-kota lain. Memasuki musim 2010-2011 manajemen melakukan perombakan habis-habisan pertama dengan mendepak pelatih yang telah mengangkat nama SFC hingga berakhir dengan menghilang nya nama-nama pemain yang selalu setia menghiasi line up SFC di musim sebelumnya.

Sikap inilah yang membuat para suporter menjadi gerah. Hingga suporter beranggapan manajemen sekarang tidak lebih bagus dari manajemen dahulu dan selalu mengkait-kaitkan dengan manajemen terdahulu yang berhasil membawa pulang dua tropi (liga dan copa) sekaligus mencetak sejarah dengan meraih double winner yang baru pertama kalinya terjadi di Indonesia. Sehingga muncul komentar-komentar yang menuduh "adanya unsur politik di tubuh SFC". Padahal semua itu pun belum bisa dibuktikan kepastiannya.

Kontroversi pun belum berakhir, manajemen yang berasumsi telah berhasil mengamankan beberapa nama lama dan mengklaim mendapatkan beberapa pemain baru tampaknya mendapat sambutan yang kurang baik dari masyarakat. Bagaimana tidak, media yang selalu menggembar-gemborkan dan menulis berita tersebut harus gigit jari ketika mendengar kepastian bahwa pemain tersebut telah mengikat kontrak dengan tim lain atau membatalkan kesepakatan pra kontrak secara sepihak dan berakhir dengan kekecewaan di tubuh masyarakat Sumsel. Begitu banyak tanggapan dari masyarakat yang kurang setuju dengan sikap manajemen seakan-akan menganggap SFC tidak akan lebih baik dari musim sebelumnya. Tidak jarang kita bisa membaca komentar-komentar negatif di setiap topik berita yang berhubungan dengan SFC. Padahal siapa yang akan tahu SFC di musim mendatang.

Memang tidak salah apabila suporter mulai meradang dikarenakan tim ini dalam mengarungi kompetisi setidaknya masih mendapatkan kucuran dana dari APBD dan semua orang pun tahu kalau uang tersebut berasal dari kantong masyarakat juga sehingga tidak salah jika mereka memberikan pendapat-pendapatnya.

Dalam hal ini kita tidak mencari siapa yg salah dan siapa yang benar. Untuk mendukung pernyataan tersebut sebaiknya kita mulai ,mawas diri dengan kemampuan yang ada.

Biarkan manajemen mengatur jalannya, serta sedikit rasa menerima dari suporter yang selalu memicingkan matanya ketika membaca rubrik yang berhubungan dengan manajemen, squad dan prestasi SFC.

Dengan lapang dada kita sebagai masyarakat biasa hendaknya bisa menerima setiap keputusan dan langkah yang di lakukan oleh manajemen. Klub tanpa manajemen mustahil bisa berkarya begitu juga dukungan dari suporter menjadi elemen tersendiri di dalam dunia sepakbola hingga akan menjadi kekuatan sebuah tim terlebih lagi media yang menyampaikan berita akan lebih mempercantik suasana.