statistik

Blogger Mobile

Minggu, 19 Agustus 2012

FOKUS : Dua Kemenangan Ini Tidak Berarti Apa-Apa Untuk PSSI Dan Sepakbola Indonesia

Bangsa Indonesia menghadapi dua hari penuh makna yang saling berdekatan pada Agustus ini, peringatan kemerdekaan RI pada 17 Agustus, dan hari raya Idul Fitri akhir pekan ini.
Ketika berperang melawan penjajah 67 tahun lalu, seluruh bangsa Indonesia berjuang hingga rela mengorbankan nyawa mereka untuk mendapatkan kemerdekaan. Berawal dari kemerdekaan itu, Indonesia mempunyai impian untuk menjadi bangsa yang besar di masa mendatang.

Sedangkan bagi kaum muslim, Idul Fitri diartikan sebagai kemenangan. Idul Fitri pun mempunyai arti kembali ke fitrah, di mana manusia diibaratkan terlahir kembali seperti bayi tanpa mempunyai dosa dan salah.
Tapi apa yang terjadi di sepakbola Indonesia, terutama induk organisasinya yang bernama PSSI? Sama sekali jauh dari cita-cita kemerdekaan, dan bahkan sama sekali jauh dari kembali ke fitrah. Kisruh sepanjang dua tahun terakhir pun makin suram. Pertikaian antarkelompok terus meruncing.
Ketika Djohar Arifin Husein terpilih sebagai ketua umum periode 2011-2015, secercah harapan untuk membawa sepakbola Indonesia menuju ke arah lebih baik sempat membumbung. Namun dalam perjalanannya, harapan itu justru tak pernah terwujud, setidaknya dalam satu tahun terakhir.

Sejumlah aturan organisasi banyak yang ditabrak kepengurusan Djohar dengan berbagai alasan yang tak logis. Akibatnya, muncul pemberontakan dari para anggota, sehingga memunculkan kompetisi tandingan Indonesia Super League (ISL) yang menyaingi Indonesian Premier League (IPL).
Bukan itu saja, pemberontakan itu membuat sebagian besar anggota membentuk komite penyelamat sepakbola Indonesia (KPSI) yang berujung menggelar kongres luar biasa (KLB) di Ancol, Jakarta, pada Maret lalu untuk menggulingkan kepengurusan Djohar, dan ketua Pengprov PSSI Jatim La Nyalla Mattalitti terpilih sebagai ketua umum.

Kubu Djohar bersikeras menyatakan mereka sebagai PSSI yang sah, karena diakui FIFA dan konfederasi sepakbola Asia (AFC). Sedangkan kubu La Nyalla juga mengklaim mereka sebagai organisasi sah, dan diakui 400-an anggota sebagai pihak yang terlibat langsung di persepakbolaan nasional.

Peperangan makin memanas, baik secara terbuka maupun terselubung. Bila diperhatikan, terutama di dunia maya, sejak kisruh sepakbola nasional makin memanas, banyak bermunculan akun-akun baru yang sangat paham dengan dapur induk organisasi sepakbola.
Bahkan tak jarang surat-surat penting organisasi pun sudah jatuh ke tangan pemilik akun-akun tersebut, sebelum orang yang terlibat langsung organisasi mendapatkannya. Para pemilik akun ini kemudian menuangkannya dalam tulisan mengenai opini mereka, sehingga makin memperkeruh suasana.

Di tengah kondisi yang makin karut marut ini, muncul komite gabungan (Joint Committee) yang dibentuk taskforce AFC melalui memorandum of understanding (MoU) di antara kedua belah pihak yang bertikai.
Namun sulit bagi JC untuk bekerja memperbaiki sepakbola nasional. Sebab, JC berisikan wakil-wakil dari kedua belah pihak yang bertikai. Otomatis perwakilan masing-masing kubu bakal menuruti apa yang diarahkan kelompoknya, sehingga perbedaan akan terus berlanjut.
Kita tentunya belum lupa bagaimana kondisi komite normalisasi mennjalankan tugasnya. Ketika komite normalisasi dibentuk tahun lalu, berbagai kesulitan dan jalan terjal dihadapi lembaga yang menjadi kepanjangan tangan langsung FIFA tersebut, serta memiliki kekuasaan lebih besar dibandingkan JC.

Jika permasalahan sepakbola ingin selesai, mereka yang berada di JC harus melupakan asal, atau mencopot identitas sebagai wakil kelompok, serta mengabaikan 'petunjuk' dari masing-masing kubu. Tempatkan JC berada di posisi tertinggi dengan satu tujuan bersih, memperbaiki sepakbola nasional.
Bila itu tidak dilakukan, sepertinya harapan untuk melihat sepakbola Indonesia ke arah lebih baik sulit terealisasi. Masa kegelapan pun makin mendekat ke cabang olahraga paling populer di tanah air ini.

SEMOGA kisruh Ini segera berakhir Tuhan !!!!
Inspiring by : Goaldotcom

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT